Di ajak ngentot nyonya majikan yang sedang sange usang di tinggal suami keluar negri alasannya ialah kiprah perusahaan saya jadi budak seks ibu majikan - Aku benar-benar lemas mendengar keputusan pihak administrasi perusahaan hari ini. Bulan kemudian perusahaan sudah memberikan rencananya untuk mengurangi sejumlah karyawan, termasuk pengemudi. Hari ini saya tahu saya termasuk yang kena PHK.
Istriku tak banyak bicara dikala kutunjukkan surat pemutusan relasi kerja itu. Ia hanya memandangi bayi kami yang gres berusia 3 bulan. Terbayang di benak kami bagaimana cara menghidupi bayi ini tanpa pekerjaan. Pesangon yang tak seberapa jumlahnya niscaya tak akan bertahan lama.
Selama seminggu penuh saya menyibukkan diri dengan iklan lowongan pekerjaan di koran dan mendatangi banyak sekali macam perusahaan untuk mencari kerja. Hasilnya nihil. Untungnya sorenya istriku membawa kabar gembira.
Pak Sulaiman, lelaki renta yang tinggal tak jauh dari rumah kami kena stroke. Ia harus istirahat total dan berhenti menyupir untuk majikan nya. Kata istriku, majikan pak Sulaiman butuh supir gres segera. Istriku mengangsurkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat majikan Pak Sulaiman.
Esok paginya saya pribadi meluncur ke rumah Pak Tan, mantan majikan Pak Sulaiman. Rumah Pak Tan luar biasa besar dan mewah. Pembantu Pak Tan membukakan pintu gerbang dan mempersilakan saya menunggu di beranda. Sejenak kemudian Pak Tan menemuiku. Ia seorang lelaki Cina tua, bos sebuah perusahaan peralatan masak di Surabaya.
“Kamu tetangga Pak Sulaiman?” Tanya Pak Tan.
“Benar, Pak. Nama saya Andi”
“Kamu kelihatan muda sekali. Berapa umurmu?” Tanya Pak Tan.
“24tahun, Pak”
“Sudah usang jadi supir?”
“3 tahun, Pak”
“Oke, Andi. Langsung saja. Kamu akan menjadi supir pribadi istri saya. Istri saya ialah Area Manager perusahaan. Ia harus banyak berkeliling ke cabang-cabang perusahaan di kota-kota lain di Jawa Timur dan di Indonesia,” terperinci Pak Tan. “Gaji tiga bulan pertama Rp 1,2 juta. Setuju?”
“Setuju, Pak”
“Kamu mulai kerja hari ini!” kata Pak Tan.
Seminggu sudah saya menjadi supir Nyonya Tan. Dari karyawan kantor, saya tahu nama Nyonya Tan ialah Yena, sebuah nama yang elok. Di kantor, para karyawan demikian segan dan hormat padanya, dan tak pernah ada yang bicara jelek perihal wanita luar biasa ini.
Di mobil, dikala tak sedang menelepon, Bu Yena tak banyak bicara. Seperti pagi ini dalam perjalanan ke Malang, menuju ke kantor cabang. Ia hanya bicara beberapa patah kata bilamana saya terlalu cepat atau terlalu pelan mengemudi.
Kami hingga di Malang sebelum tengah hari. Bu Yena majikan ku pribadi memimpin rapat para karyawan. Aku sendiri pribadi menuju warung makan di depan kantor. Setelah 3 jam menunggu, perutku mulas. Pasti itu alasannya ialah sambal pecel lele yang kumakan di warung tadi. Aku mencari WC. Kata karyawan kantor, WC supir ada di cuilan belakang. Aku segera menyelinap ke belakang mencari WC yang dimaksud, melewati lorong-lorong sempit tumpukan stok barang perusahaan.
Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, saya bermaksud kembali ke depan melewati lorong-lorong sempit itu. Dinding salah satu lorong itu ternyata ialah beling salah satu ruang kantor. Tirai dinding beling itu terbuka sedikit, dan tak sengaja dari celah kecil itu saya melihat sebuah episode seru, yang sudah niscaya bukan acara kantoran pada umumnya.
Seorang lelaki muda sedang asyik memeluk, mencium dan dengan lidahnya menelusuri dada wanita yang saya kenal betul, yakni Bu Yena. di atas sebuah sofa di ruang kantor kepala pemasaran cabang Malang.
Bagian atas blus Bu Yena majikan ku terbuka lebar, menampakkan dadanya yang penuh di balik BH yang terurai sebelah. Bu Yena tampak begitu menikmati itu. Kepalanya terdongak dengan mata terpejam bibirnya terbuka. Kalau tak ada dinding beling ini, saya niscaya sanggup mendengar desah-desah nikmatnya. Aku terpaku menikmati episode kecil di celah sempit itu.
Tak sengaja lututku menyentuh tumpukan stok barang pecah belah. Setumpuk piring jatuh berhamburan, mengakibatkan bunyi yang niscaya terdengar dari dalam ruangan. Kulihat agresi Bu Yena dan lelaki itu terhenti seketika. Aku lari menjauh, tak perlu repot-repot menata ulang piring-piring yang berserakan.
Satu jam kemudian Bu Yena keluar dari kantor dan minta balik ke Surabaya. Aku tak berani banyak bicara dalam mobil. Bu Yena juga tidak, tapi ia kelihatan santai sekali. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia tahu saya mengintipnya tadi. Dua puluh menit kemudian, masih dalam perjalaan balik ke Surabaya, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Andi, berapa umurmu?” Tanya Bu Yena tiba-tiba.
“24 tahun, bu”
“Sudah menikah?”
“Sudah, Bu. Saya punya bayi usia 3 bulan”
Tiba-tiba Bu Yena melemparkan satu amplop tebal ke bangku di sebelahku. Sejumlah lembaran seratus ribuan tampak dari ujung amplop yang terbuka.
“Itu untuk kau dan anakmu. 5 juta rupiah!” kata Bu Yena.
“Untuk saya?” tanyaku heran.
“Ya, untuk kamu,” tegas Bu Yena.
“Wah, untuk apa ini, ya, bu?” tanyaku tak mengerti. Aku melihatnya dari beling spion. Bisa kulihat Bu Yena majikan ku tersenyum dari beling itu.
“Ini uang tutup mulut. Aku tahu kau mengintip saya sedang bermesraan dengan Alex tadi. Tidak boleh ada yang tahu ini. Kalau Pak Tan tahu, itu berarti dari kamu. Dan kau niscaya akan kehilangan pekerjaan. Kunci mulutmu dengan uang 5 juta itu, dan kau tetap sanggup bekerja. Faham?” ujar Bu Yena tegas.
Aku bengong sejenak. Kuberanikan bicara, “Ibu tidak perlu memberi saya uang itu. Saya akan tutup mulut. Ibu sanggup pegang kata-kata saya” “Tidak! Ambil saja! Dan jangan bicara lagi!” itulah kalimat terakhir bu Yena. Selebihnya, ia tidak bicara lagi. Besoknya saya menyetorkan uang ke tabunganku tanpabilang-bilang istriku. Dan selanjutnya, saya menutup lisan rapat-rapat. Hari-hari berjalan menyerupai biasa, tak banyak yang berubah.
Yang sedikit berubah ialah suasana di dalam mobil. Belakangan ini Bu Yena kerap kali bergeser daerah duduk. Kalau biasanya ia duduk tepat di belakangku, kali ini ia lebih sering bergeser ke kiri. Ia acap kali mencuri pandang ke arahku dari duduknya di mobil. Entah kenapa ia begitu. Yang terperinci saya tak pernah berani menatapnya dari balik spion.
Pagi ini saya mengantar Bu Yena ke bandara Juanda. Ia akan bertugas menyelidiki cabang Bali selama seminggu. Jadi, selama seminggu ini saya akan stand-by di kantor Pak Tan sebagai sopir cadangan. Tapi selepas siang sebuah sms masuk ke HP-ku. Itu dari Bu Yena. Bunyinya, : Sopir cabang Bali sakit. Kamu ke Bali siang ini. Sudah saya kirim uang buat beli tiket pesawat. Kamu pribadi ke kantor Cabang Denpasar”.
Segera saya mendapat uang tiket dan alamat kantor Cabang Denpasar dari kantor Surabaya. Senang juga rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya. 4 jam kemudian saya sudah berada di Kantor Cabang Denpasar. “Saya lebih nyaman kalau kau yang nyupir,” kata Bu Yena begitu duduk di bangku belakang di kendaraan beroda empat Cabang Denpasar. “Kamu banyak tahu jalan-jalan di Denpasar, kan?” tanya Bu Yena.
“Ya, Bu. Saya menempuh Sekolah Menengan Atas saya di sini,” kataku.
“Baiklah, pribadi ke Hotel Santika Kuta Beach,” perintah Bu Yena.
Setelah check-in di hotel, saya sempat membawakan barang ke kamar Bu Yena, sebuah kamar cottage tepat di pinggir pantai Kuta. “Ini uang buat cari hotel kecil di sekitar sini. Mobil kau bawa. HP-kamu mesti stand-by. Kalau saya perlu keluar, saya akan telepon,” kata bu Yena.
“Baik, bu!”
Aku mendapat hotel kecil tak jauh dari Santika Kuta Beach. Jam tujuh malam kurang sedikit, setelah mandi, dan mengenakan t-shirt, teleponku bergetar. Bu Yena kirim SMS. “Charger saya ketinggalan di mobil. Bisa kau antar ke hotel?” demikian bunyi SMS itu. Aku segera beranjak. Ketika hingga di hotel, SMS Bu Yena tiba lagi, “Kamu sudah hingga hotel? Bisa pribadi antar charger ke kamar saya?”
Dengan charger di tangan, saya bergerak ke cuilan belakang hotel dan mencari cottage bu Yena. Di malam hari suasana cottage itu syahdu benar, dengan tanaman rindang, lampu redup di seputaran cottage dan deburan ombak maritim tak jauh dari cottage. Aku mengetuk pintu cottage.
“Masuk saja, tidak dikunci!” terdengar bunyi Bu Yena. Aku tak berani pribadi masuk. Ragu saya bangkit di depan pintu.
“Masuk, Andi!” bunyi Bu Yena agak meninggi, setengah memerintah.
Aku mendorong pintu. Bu Yena bangkit di erat jendela yang menghadap ke pantai dengan segelas soft-drink dengan rambut terurai dan senyum manis. Berdebar saya melihatnya. Tank-top merah ketat yang dikenakan membiarkan lekuk-lekuk dadanya terlihat jelas. Belahan dada yang indah itupun tidak tersembunyikan. Aku menatap kakinya yang jenjang. Shorts putih yang teramat pendek itu menyajikan sepasang paha mulus yang kencang.
“Ini chargernya, Bu Yena. Saya taruh sini, ya!” kataku gugup. Bu Yena berjalan menghampiriku. Ya ampun! Cara berjalan itu, demikian menggetarkan dada. Seksi nian orang satu ini. “Kamu kelihatan gugup,” ujar Bu Yena tenang, menatapku dengan pandangan penuh. Tak pernah ia memandangku sedemikian rupa sebelumnya.
“Lihat sekeliling. Sebuah kamar yang nyaman dengan lampu redup, dan bunyi debur ombak. Sempurna sekali, bukan?” kata Bu Yena dalam kerlingnya. Aroma farfum mahal itu menyergap hidungku. Aku tak tahu Bu Yena bicara apa, tapi saya menjawabnya.
“Ya, benar. Sempurna,” kataku. Aku mundur beberapa langkah. Bu Yena makin erat ke arahku.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Bu Yena. Wajahnya tak jauh dari wajahku,
“Saya….eh…saya, harus segera balik. Saya tidak ingin mengganggu kesempurnaan suasana ini,” kataku.
“Begitu?” kata Bu Yena pelan, meletakkan gelas di meja di sebelahnya. “Kalau begitu, balikkan tubuh dan tutup pintu itu,” katanya kemudian. Aku menuruti perintahnya. Aku membalikkan badan, dan menutup pintu.
“Tidak, begitu, Andi. Tutup dari dalam, bukan dari luar!” ujar Bu Yena.
Aku terkejut. “Dari dalam? Maksud Ibu?””
“Ya, dari dalam. Dan kau tetap di sini. Kita cuma berdua di kamar yang romantis ini. Tidak bisakah kau lihat ranjang itu? Tidak kah kau tahu kenapa saya memanggilmu ke sini? Tidak bisakah kau lihat betapa saya menginginkanmu?”
Aku membisu terpaku. Tapi ada benda yang mulai terasa mekar di selangkanganku. Bu Yena mendekatiku dan mengalungkan kedua tangannya ke leherku. “Pangil saya Yena saja. Bawa saya ke ranjang itu. Aku ingin kau cumbui aku. Bercintalah denganku. Aku pingin sekali!” Belum sempat saya mengucapkan sepatah kata.
Bibir Yena telah mendarat di bibirku. Dilumatnya saya dengan rakus dan beringas. Entah kenapa saya tak lagi ragu. Kubalas lumatan bibir itu dengan tak kalah beringas. Sungguh bagus dan segar bibir itu. Yena segera melepas kaosku dan melepas tank-topnya sendiri, membiarkan dada indahnya telanjang.
Aku segera menyergap dada indah itu. Kukulum dan kuhisap habis-habisan puting susu Yena. Aku yakin itu yang ia suka dan ia mau sekarang. Dan saya benar. Ia mengerang dan mendesah dan membiarku saya mengeksplorasi dada dan lehernya dengan bibir dan lidahku.
Kukulum lembut puting merah jambu itu dan kurema-remas dengan ritme yang embut pula. Tubuh Yena bergetar hebat. Dengan ciuman bertubi-tubi dan dorongan dadanya pula, ia menggerakkan saya ke arah ranjang dan menindihku dengan gencar, masih dengan ciumannya yang makin beringas.
“Susuku. Aku mau kau hisap putingku lagi. Telusuri sekujur dadaku. Buat saya nikmat. Buat saya melayang, Andi!”
“Kau akan dapatkan yang kau mau, Yena” kataku tersengal.
Kuberi Yena jilatan-jilatan rakus di puting dan seputaran susunya. Ia membalasanya dengan gerakan yang sangat terlatih dan terampil. Dibalasnya saya dengan menghisap dan menggigit kecil putingku. Dan debur ombak pantai Kuta menyerupai mendadak membimbing Yena untuk memintaku melepaskan celana pendek yang dikenakan itu, dan ia tak sabar membantu saya melepaskan celana jeansku.
“Lepas celanaku, Andi. Lepas dan beri saya kejantananmu,” Yena mendesah dikala mulai kuraih celana itu untuk kulorotkan. Tempik indah dan bagus wanita Cina itu menyembul dengan kerumunan rambut halus yang menyemut di sekitarnya.
“Kamu mau saya menggerayangi ini dengan lidahku?” tanyaku.
“Itu yang saya mau. Do it!” kata Yena.
Ia membantu dirinya sendiri terlentang dan meraih kepalaku. Kubenamkan wajahku di tempik Yena dan kumainkan lidahku, merangsek sedalam mungkin ke seantero vagina yang berair dan lapar itu. Yeni merintih, mengerang, mendesah dan mengaduh nikmat. “Ohhhh! ooouhhhh! Ouuuhhhh, Andiiiii! That’s good. Terussss. Terusss. Ouuuh!” Yena terus mengerang di antara debur ombak pantai.
Sejenak kemudian, ia mengangkat kepala dan meraih penisku. “Sekarang kau harus mencicipi balasanku,” seloroh Yena. Ia menelan bulat-bulan penisku dan mengulumnya penuh nikmat. Iapun menarik penisku maju mundur mulai dari kecepatan rendah, sedang dan kecepatan tinggi dengan jepitan mulutnya. Aku terengah-engah dibuatnya. Sungguh hebat wanita ini menunjukkan kenikmatan pada penisku. Benar-benar mabuk saya dibuatnya.
Tak sabar lagi aku. Libidoku sudah naik ke ubun-ubun. Aku menindihnya, menyerang susunya sekali lagi dan menciptakan Yena menggelinjang liar di daerah tidur itu. Yena lebih tak sabar lagi. Ia membetot penisku dan membantuku mencari tempik basahnya.
“Senangkan aku, bahagiakan aku, Andi. Aku mau kau semenjak pertama saya melihat kamu!
“Kamu terlalu banyak meminta, Yena,” kataku.
Kubenamkan penisku ke dalam vaginanya yang berair menantang. Kupompa dengan penuh kelembutan dengan gerakan yang kusesuaikan dengan debar nafas Yena. Kubiarkan penisku mencari titik-titik nikmat di vagina Cina seksi ini. Kuberi ia bonus gigitan-gigitan kecil di puting dan sekujur susunya. Ini menciptakan Yena senang bukan main. Tak sanggup kujelaskan rintihan, desahan dan erangan Yena.
Aku dan Yena bercinta semalam suntuk. Yena hanya memberiku istirahat sejenak sebelum ia mulai menyerang saya lagi. Ia punya banyak teknik permainan yang membuatku terperangah. Dan ia selalu meminta, meminta dan meminta. Ini menciptakan saya harus mengimbanginya terus, berapa kalipun ia memintanya.
Kami berada di Bali seminggu penuh. Yena arif bikin alasan untuk tidak perlu tiba ke kantor cabang. Ia hanya mau saya mencumbunya terus dan terus tiada habis. Pada malam terakhir sebelum balik ke Surabaya, saya dan Yena bercinta di dalam sleeping-bag selepas tengah malam di pantai yang sunyi.
Begitu balik ke Surabaya, Yena terus minta saya memuaskannya : di kamar rumahnya dikala Pak Tan dan seisi rumah sedang keluar, dan di mana saja. Kami pergi ke hotel di Malang, Jogja, Madiun, Jakarta bahkan Singapura. Sering pula Yena minta saya mencumbunya di dalam kendaraan beroda empat dan dimana saja ia menjadi horny.
Istriku tak banyak bicara dikala kutunjukkan surat pemutusan relasi kerja itu. Ia hanya memandangi bayi kami yang gres berusia 3 bulan. Terbayang di benak kami bagaimana cara menghidupi bayi ini tanpa pekerjaan. Pesangon yang tak seberapa jumlahnya niscaya tak akan bertahan lama.
Selama seminggu penuh saya menyibukkan diri dengan iklan lowongan pekerjaan di koran dan mendatangi banyak sekali macam perusahaan untuk mencari kerja. Hasilnya nihil. Untungnya sorenya istriku membawa kabar gembira.
Pak Sulaiman, lelaki renta yang tinggal tak jauh dari rumah kami kena stroke. Ia harus istirahat total dan berhenti menyupir untuk majikan nya. Kata istriku, majikan pak Sulaiman butuh supir gres segera. Istriku mengangsurkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat majikan Pak Sulaiman.
Esok paginya saya pribadi meluncur ke rumah Pak Tan, mantan majikan Pak Sulaiman. Rumah Pak Tan luar biasa besar dan mewah. Pembantu Pak Tan membukakan pintu gerbang dan mempersilakan saya menunggu di beranda. Sejenak kemudian Pak Tan menemuiku. Ia seorang lelaki Cina tua, bos sebuah perusahaan peralatan masak di Surabaya.
“Kamu tetangga Pak Sulaiman?” Tanya Pak Tan.
“Benar, Pak. Nama saya Andi”
“Kamu kelihatan muda sekali. Berapa umurmu?” Tanya Pak Tan.
“24tahun, Pak”
“Sudah usang jadi supir?”
“3 tahun, Pak”
“Oke, Andi. Langsung saja. Kamu akan menjadi supir pribadi istri saya. Istri saya ialah Area Manager perusahaan. Ia harus banyak berkeliling ke cabang-cabang perusahaan di kota-kota lain di Jawa Timur dan di Indonesia,” terperinci Pak Tan. “Gaji tiga bulan pertama Rp 1,2 juta. Setuju?”
“Setuju, Pak”
“Kamu mulai kerja hari ini!” kata Pak Tan.
Seminggu sudah saya menjadi supir Nyonya Tan. Dari karyawan kantor, saya tahu nama Nyonya Tan ialah Yena, sebuah nama yang elok. Di kantor, para karyawan demikian segan dan hormat padanya, dan tak pernah ada yang bicara jelek perihal wanita luar biasa ini.
Di mobil, dikala tak sedang menelepon, Bu Yena tak banyak bicara. Seperti pagi ini dalam perjalanan ke Malang, menuju ke kantor cabang. Ia hanya bicara beberapa patah kata bilamana saya terlalu cepat atau terlalu pelan mengemudi.
Kami hingga di Malang sebelum tengah hari. Bu Yena majikan ku pribadi memimpin rapat para karyawan. Aku sendiri pribadi menuju warung makan di depan kantor. Setelah 3 jam menunggu, perutku mulas. Pasti itu alasannya ialah sambal pecel lele yang kumakan di warung tadi. Aku mencari WC. Kata karyawan kantor, WC supir ada di cuilan belakang. Aku segera menyelinap ke belakang mencari WC yang dimaksud, melewati lorong-lorong sempit tumpukan stok barang perusahaan.
Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, saya bermaksud kembali ke depan melewati lorong-lorong sempit itu. Dinding salah satu lorong itu ternyata ialah beling salah satu ruang kantor. Tirai dinding beling itu terbuka sedikit, dan tak sengaja dari celah kecil itu saya melihat sebuah episode seru, yang sudah niscaya bukan acara kantoran pada umumnya.
Seorang lelaki muda sedang asyik memeluk, mencium dan dengan lidahnya menelusuri dada wanita yang saya kenal betul, yakni Bu Yena. di atas sebuah sofa di ruang kantor kepala pemasaran cabang Malang.
Bagian atas blus Bu Yena majikan ku terbuka lebar, menampakkan dadanya yang penuh di balik BH yang terurai sebelah. Bu Yena tampak begitu menikmati itu. Kepalanya terdongak dengan mata terpejam bibirnya terbuka. Kalau tak ada dinding beling ini, saya niscaya sanggup mendengar desah-desah nikmatnya. Aku terpaku menikmati episode kecil di celah sempit itu.
Tak sengaja lututku menyentuh tumpukan stok barang pecah belah. Setumpuk piring jatuh berhamburan, mengakibatkan bunyi yang niscaya terdengar dari dalam ruangan. Kulihat agresi Bu Yena dan lelaki itu terhenti seketika. Aku lari menjauh, tak perlu repot-repot menata ulang piring-piring yang berserakan.
Satu jam kemudian Bu Yena keluar dari kantor dan minta balik ke Surabaya. Aku tak berani banyak bicara dalam mobil. Bu Yena juga tidak, tapi ia kelihatan santai sekali. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia tahu saya mengintipnya tadi. Dua puluh menit kemudian, masih dalam perjalaan balik ke Surabaya, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Andi, berapa umurmu?” Tanya Bu Yena tiba-tiba.
“24 tahun, bu”
“Sudah menikah?”
“Sudah, Bu. Saya punya bayi usia 3 bulan”
Tiba-tiba Bu Yena melemparkan satu amplop tebal ke bangku di sebelahku. Sejumlah lembaran seratus ribuan tampak dari ujung amplop yang terbuka.
“Itu untuk kau dan anakmu. 5 juta rupiah!” kata Bu Yena.
“Untuk saya?” tanyaku heran.
“Ya, untuk kamu,” tegas Bu Yena.
“Wah, untuk apa ini, ya, bu?” tanyaku tak mengerti. Aku melihatnya dari beling spion. Bisa kulihat Bu Yena majikan ku tersenyum dari beling itu.
“Ini uang tutup mulut. Aku tahu kau mengintip saya sedang bermesraan dengan Alex tadi. Tidak boleh ada yang tahu ini. Kalau Pak Tan tahu, itu berarti dari kamu. Dan kau niscaya akan kehilangan pekerjaan. Kunci mulutmu dengan uang 5 juta itu, dan kau tetap sanggup bekerja. Faham?” ujar Bu Yena tegas.
Aku bengong sejenak. Kuberanikan bicara, “Ibu tidak perlu memberi saya uang itu. Saya akan tutup mulut. Ibu sanggup pegang kata-kata saya” “Tidak! Ambil saja! Dan jangan bicara lagi!” itulah kalimat terakhir bu Yena. Selebihnya, ia tidak bicara lagi. Besoknya saya menyetorkan uang ke tabunganku tanpabilang-bilang istriku. Dan selanjutnya, saya menutup lisan rapat-rapat. Hari-hari berjalan menyerupai biasa, tak banyak yang berubah.
Yang sedikit berubah ialah suasana di dalam mobil. Belakangan ini Bu Yena kerap kali bergeser daerah duduk. Kalau biasanya ia duduk tepat di belakangku, kali ini ia lebih sering bergeser ke kiri. Ia acap kali mencuri pandang ke arahku dari duduknya di mobil. Entah kenapa ia begitu. Yang terperinci saya tak pernah berani menatapnya dari balik spion.
Pagi ini saya mengantar Bu Yena ke bandara Juanda. Ia akan bertugas menyelidiki cabang Bali selama seminggu. Jadi, selama seminggu ini saya akan stand-by di kantor Pak Tan sebagai sopir cadangan. Tapi selepas siang sebuah sms masuk ke HP-ku. Itu dari Bu Yena. Bunyinya, : Sopir cabang Bali sakit. Kamu ke Bali siang ini. Sudah saya kirim uang buat beli tiket pesawat. Kamu pribadi ke kantor Cabang Denpasar”.
Segera saya mendapat uang tiket dan alamat kantor Cabang Denpasar dari kantor Surabaya. Senang juga rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya. 4 jam kemudian saya sudah berada di Kantor Cabang Denpasar. “Saya lebih nyaman kalau kau yang nyupir,” kata Bu Yena begitu duduk di bangku belakang di kendaraan beroda empat Cabang Denpasar. “Kamu banyak tahu jalan-jalan di Denpasar, kan?” tanya Bu Yena.
“Ya, Bu. Saya menempuh Sekolah Menengan Atas saya di sini,” kataku.
“Baiklah, pribadi ke Hotel Santika Kuta Beach,” perintah Bu Yena.
Setelah check-in di hotel, saya sempat membawakan barang ke kamar Bu Yena, sebuah kamar cottage tepat di pinggir pantai Kuta. “Ini uang buat cari hotel kecil di sekitar sini. Mobil kau bawa. HP-kamu mesti stand-by. Kalau saya perlu keluar, saya akan telepon,” kata bu Yena.
“Baik, bu!”
Aku mendapat hotel kecil tak jauh dari Santika Kuta Beach. Jam tujuh malam kurang sedikit, setelah mandi, dan mengenakan t-shirt, teleponku bergetar. Bu Yena kirim SMS. “Charger saya ketinggalan di mobil. Bisa kau antar ke hotel?” demikian bunyi SMS itu. Aku segera beranjak. Ketika hingga di hotel, SMS Bu Yena tiba lagi, “Kamu sudah hingga hotel? Bisa pribadi antar charger ke kamar saya?”
Dengan charger di tangan, saya bergerak ke cuilan belakang hotel dan mencari cottage bu Yena. Di malam hari suasana cottage itu syahdu benar, dengan tanaman rindang, lampu redup di seputaran cottage dan deburan ombak maritim tak jauh dari cottage. Aku mengetuk pintu cottage.
“Masuk saja, tidak dikunci!” terdengar bunyi Bu Yena. Aku tak berani pribadi masuk. Ragu saya bangkit di depan pintu.
“Masuk, Andi!” bunyi Bu Yena agak meninggi, setengah memerintah.
Aku mendorong pintu. Bu Yena bangkit di erat jendela yang menghadap ke pantai dengan segelas soft-drink dengan rambut terurai dan senyum manis. Berdebar saya melihatnya. Tank-top merah ketat yang dikenakan membiarkan lekuk-lekuk dadanya terlihat jelas. Belahan dada yang indah itupun tidak tersembunyikan. Aku menatap kakinya yang jenjang. Shorts putih yang teramat pendek itu menyajikan sepasang paha mulus yang kencang.
“Ini chargernya, Bu Yena. Saya taruh sini, ya!” kataku gugup. Bu Yena berjalan menghampiriku. Ya ampun! Cara berjalan itu, demikian menggetarkan dada. Seksi nian orang satu ini. “Kamu kelihatan gugup,” ujar Bu Yena tenang, menatapku dengan pandangan penuh. Tak pernah ia memandangku sedemikian rupa sebelumnya.
“Lihat sekeliling. Sebuah kamar yang nyaman dengan lampu redup, dan bunyi debur ombak. Sempurna sekali, bukan?” kata Bu Yena dalam kerlingnya. Aroma farfum mahal itu menyergap hidungku. Aku tak tahu Bu Yena bicara apa, tapi saya menjawabnya.
“Ya, benar. Sempurna,” kataku. Aku mundur beberapa langkah. Bu Yena makin erat ke arahku.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Bu Yena. Wajahnya tak jauh dari wajahku,
“Saya….eh…saya, harus segera balik. Saya tidak ingin mengganggu kesempurnaan suasana ini,” kataku.
“Begitu?” kata Bu Yena pelan, meletakkan gelas di meja di sebelahnya. “Kalau begitu, balikkan tubuh dan tutup pintu itu,” katanya kemudian. Aku menuruti perintahnya. Aku membalikkan badan, dan menutup pintu.
“Tidak, begitu, Andi. Tutup dari dalam, bukan dari luar!” ujar Bu Yena.
Aku terkejut. “Dari dalam? Maksud Ibu?””
“Ya, dari dalam. Dan kau tetap di sini. Kita cuma berdua di kamar yang romantis ini. Tidak bisakah kau lihat ranjang itu? Tidak kah kau tahu kenapa saya memanggilmu ke sini? Tidak bisakah kau lihat betapa saya menginginkanmu?”
Aku membisu terpaku. Tapi ada benda yang mulai terasa mekar di selangkanganku. Bu Yena mendekatiku dan mengalungkan kedua tangannya ke leherku. “Pangil saya Yena saja. Bawa saya ke ranjang itu. Aku ingin kau cumbui aku. Bercintalah denganku. Aku pingin sekali!” Belum sempat saya mengucapkan sepatah kata.
Bibir Yena telah mendarat di bibirku. Dilumatnya saya dengan rakus dan beringas. Entah kenapa saya tak lagi ragu. Kubalas lumatan bibir itu dengan tak kalah beringas. Sungguh bagus dan segar bibir itu. Yena segera melepas kaosku dan melepas tank-topnya sendiri, membiarkan dada indahnya telanjang.
Aku segera menyergap dada indah itu. Kukulum dan kuhisap habis-habisan puting susu Yena. Aku yakin itu yang ia suka dan ia mau sekarang. Dan saya benar. Ia mengerang dan mendesah dan membiarku saya mengeksplorasi dada dan lehernya dengan bibir dan lidahku.
Kukulum lembut puting merah jambu itu dan kurema-remas dengan ritme yang embut pula. Tubuh Yena bergetar hebat. Dengan ciuman bertubi-tubi dan dorongan dadanya pula, ia menggerakkan saya ke arah ranjang dan menindihku dengan gencar, masih dengan ciumannya yang makin beringas.
“Susuku. Aku mau kau hisap putingku lagi. Telusuri sekujur dadaku. Buat saya nikmat. Buat saya melayang, Andi!”
“Kau akan dapatkan yang kau mau, Yena” kataku tersengal.
Kuberi Yena jilatan-jilatan rakus di puting dan seputaran susunya. Ia membalasanya dengan gerakan yang sangat terlatih dan terampil. Dibalasnya saya dengan menghisap dan menggigit kecil putingku. Dan debur ombak pantai Kuta menyerupai mendadak membimbing Yena untuk memintaku melepaskan celana pendek yang dikenakan itu, dan ia tak sabar membantu saya melepaskan celana jeansku.
“Lepas celanaku, Andi. Lepas dan beri saya kejantananmu,” Yena mendesah dikala mulai kuraih celana itu untuk kulorotkan. Tempik indah dan bagus wanita Cina itu menyembul dengan kerumunan rambut halus yang menyemut di sekitarnya.
“Kamu mau saya menggerayangi ini dengan lidahku?” tanyaku.
“Itu yang saya mau. Do it!” kata Yena.
Ia membantu dirinya sendiri terlentang dan meraih kepalaku. Kubenamkan wajahku di tempik Yena dan kumainkan lidahku, merangsek sedalam mungkin ke seantero vagina yang berair dan lapar itu. Yeni merintih, mengerang, mendesah dan mengaduh nikmat. “Ohhhh! ooouhhhh! Ouuuhhhh, Andiiiii! That’s good. Terussss. Terusss. Ouuuh!” Yena terus mengerang di antara debur ombak pantai.
Sejenak kemudian, ia mengangkat kepala dan meraih penisku. “Sekarang kau harus mencicipi balasanku,” seloroh Yena. Ia menelan bulat-bulan penisku dan mengulumnya penuh nikmat. Iapun menarik penisku maju mundur mulai dari kecepatan rendah, sedang dan kecepatan tinggi dengan jepitan mulutnya. Aku terengah-engah dibuatnya. Sungguh hebat wanita ini menunjukkan kenikmatan pada penisku. Benar-benar mabuk saya dibuatnya.
Tak sabar lagi aku. Libidoku sudah naik ke ubun-ubun. Aku menindihnya, menyerang susunya sekali lagi dan menciptakan Yena menggelinjang liar di daerah tidur itu. Yena lebih tak sabar lagi. Ia membetot penisku dan membantuku mencari tempik basahnya.
“Senangkan aku, bahagiakan aku, Andi. Aku mau kau semenjak pertama saya melihat kamu!
“Kamu terlalu banyak meminta, Yena,” kataku.
Kubenamkan penisku ke dalam vaginanya yang berair menantang. Kupompa dengan penuh kelembutan dengan gerakan yang kusesuaikan dengan debar nafas Yena. Kubiarkan penisku mencari titik-titik nikmat di vagina Cina seksi ini. Kuberi ia bonus gigitan-gigitan kecil di puting dan sekujur susunya. Ini menciptakan Yena senang bukan main. Tak sanggup kujelaskan rintihan, desahan dan erangan Yena.
Aku dan Yena bercinta semalam suntuk. Yena hanya memberiku istirahat sejenak sebelum ia mulai menyerang saya lagi. Ia punya banyak teknik permainan yang membuatku terperangah. Dan ia selalu meminta, meminta dan meminta. Ini menciptakan saya harus mengimbanginya terus, berapa kalipun ia memintanya.
Kami berada di Bali seminggu penuh. Yena arif bikin alasan untuk tidak perlu tiba ke kantor cabang. Ia hanya mau saya mencumbunya terus dan terus tiada habis. Pada malam terakhir sebelum balik ke Surabaya, saya dan Yena bercinta di dalam sleeping-bag selepas tengah malam di pantai yang sunyi.
Begitu balik ke Surabaya, Yena terus minta saya memuaskannya : di kamar rumahnya dikala Pak Tan dan seisi rumah sedang keluar, dan di mana saja. Kami pergi ke hotel di Malang, Jogja, Madiun, Jakarta bahkan Singapura. Sering pula Yena minta saya mencumbunya di dalam kendaraan beroda empat dan dimana saja ia menjadi horny.
Tag :
majikan,
nyonya majikan

0 Komentar untuk "Cerita Hitam Gairah Seks Nyonya Majikan Ku Yang Sangat Liar"