Cerita Hitam Perselingkuhan Mertua Dengan Menantu Gres Yang Doyan Ngesex

Cerita Hot untuk 18+, Cerita Dewasa paling panas , Cerita Mesum mertua ngentot menantu -  Kenikmatan Sex Dengan Menantu Baru - Ini ialah kisahku ihwal bagaimana saya mendapatkan kenikmatan dari menantuku istri dari anak ku sendiri. mari kita simak ceritanya.. woyooo..
Ini ialah kisahku ihwal bagaimana saya mendapatkan kenikmatan dari menantuku istri dari  Cerita Hitam Perselingkuhan mertua dengan menantu gres yang doyan ngesex
Dina mematut diri di depan cermin. Ini ialah hari yang paling di nantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak alasan kenapa kesannya ia bersedia menikah dengan Doni. Dan seks ialah salah satunya, meskipun Doni hanya mempunyai sebuah penis yang kecil saja. Namun seks dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meskipun semenjak Doni telah menyematkan sebuah cincin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan, setiap kali ia mencicipi cincin tersebut di jarinya dikala lelaki lain sedang meyetubuhi vaginanya yang dijanjikannya hanya untuk Doni.

Dia ingat dikala malam dimana Doni melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata “ya”, menciumnya dan menikmati bagaimana nyamannya rasa menggunakan cincin berlian yang sangat mahal tersebut. Dan sesudah makan malam bersama Doni itu, ia eksklusif menghubungi Alan, begitu kendaraan beroda empat Doni hilang dari pandangan, mengundangnya tiba ke rumah kontrakannya. Dina menunggu Alan dengan tanpa mengenakan selembar pakaianpun untuk menutupi tubuhnya yang berbaring menunggu di atas daerah tidurnya, cincin berlian yang gres saja diberikan oleh Doni ialah satu-satunya benda yang menempel di badan telanjangnya. Ada desiran aneh terasa dikala matanya menangkap kilauan cincin berlian itu waktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar dikala tangannya meliputi kedua payudaranya dengan sperma Alan yang melumuri cincin itu. Dan oergasme yang diraihnya malam itu, yang tentu saja bersama lelaki lain selain tunangannya, sangat andal – tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat sedangkan ia menjilati sperma Alan yang berada di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dengan hal ini dan berencana akan melakukannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.

Saat ini, ia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan ia sadar akan hal itu. Dina tersenyum. Dia membayangkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Doni akan banyak yang hadir dan akan banyak lelaki lain yang akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhu fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, dan ia membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk menciptakan hari ini lebih komplit dan sempurna, dikala lonceng berbunyi nanti.

Saat ia membuka pintu, Papah Doni, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemputnya dan mengantarnya ke gereja. Dina menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya – beberapa bulan belakangan ini ia telah berusaha untuk menggodanya, dan ia pernah mendengar lelaki ini melaksanakan masturbasi di kamar mandi dikala ia tiba berkunjung ke rumah Doni, menyebut namanya. Dina belum niscaya apakah gampang nantinya untuk menarik hati Darma biar kesannya mau bersetubuh dengannya, tapi kini ia akan mencari tahu ihwal hal tersebut. Dia tersenyum lebar dikala menangkap mata Darma yang manatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat untuk beberapa saat.

“Papah” tegurnya, dan memberinya sebuah ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yang menarik hati menyelimuti penciuman Darma. “Papah tiba terlalu cepat, saya belum siap. Tapi Papah sanggup membantuku.” Digenggamnya tangan Darma dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, daerah yang akan segera ditinggalkannya nanti sesudah menikah dengan Doni.

Darma mengikutinya dengan dada yang berbar kencang. Ini ialah dikala yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan bisa dikatakan kurang pergaulan itu sanggup menikahi seorang perempuan bagus dan menarik hati menyerupai ini, tapi ia bahagia alasannya nantinya ia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengan perempuan ini. “Apa yang bisa ku bantu?”

Dina berhenti di ruang tengahnya yang nyaman kemudian duduk di sebuah meja.

“Aku belum memasang kaitan stockingku… dan sekarang, dengan pakaian ini… saya kesulitan untuk memasangnya.”

Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibungkus dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi eksklusif terpampang.

“Bisakah Papah membantuku memasangnya?”

Darma ragu-ragu untuk beberapa waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah “undangan” untuk sesuatu yang lain lagi, ataukah hanya sebuah ajakan tolong yang biasa saja? Dia mengangguk.

“Oh, tentu…” ia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar dikala Dina dengan pelan mengangkat kakinya . Darma berusaha untuk memasangkan kaitan stocking itu.

Dina menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih. Dia sanggup mencicipi sebuah perasaan yang tak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan nikmat yang menciptakan nafasnya semakin sesak, menciptakan nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia sanggup mencicipi cairannya mulai membasahi. Kaitan itu kesannya terpasang di sekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tak yakin apakah ia sudah memasangkan dengan benar.

“Papah, seharusnya lebih ke atas lagi…” tangan calon Papah mertuanya yang berada sedikit dibawah vaginanya membuatnya menjadi berdenyut dengan liar.
Keragu-raguan itu hanya bertahan untuk beberapa dikala saja. Tangan Darma menarik kaitan itu semakin ke atas dikala calon istri anaknya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa kering dikala kesannya kaitan itu terpasang pada tempatnya di bab paling atas stockingnya. Dia yakin sanggup mencium aroma dari vagina Dina sekarang, yang menciptakan jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking itu melingari bab atas paha Dina… dan ia mencicipi bab gaun pengantin itu terjatuh dikala Dina melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bab belakang kepalanya dan mengarahkan wajah Papah calon suaminya mendekat ke vaginanya, dan Darma menemukan tak ada celana dalam yang terpasang di sana.

Dina melenguh dan memejamkan matanya dikala harapannya terkabul. Darma tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir vaginanya, dan Dina semakin berair dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih menahan gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, ia mulai menggoyangkannya perlahan. Ini serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya tepat di hari pernikahannya menciptakan tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang dikala pengecap Darma memasuki lubangnya, dan pengecap itu mulai bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah rumah kontrakannya.

Semakin Dina menggelinjang, semakin keras pula Darma menghisapnya.

“Oh ya Papah… jilat vaginaku… buat saya orgasme sebelum saya mengucapkan janjiku pada putramu… kumohon…” perasaan salah akan apa yang mereka perbuat menciptakan Dina dengan cepat meraih orgasmenya, dan hampir saja ia rubuh menimpa Darma. Ini bukan menyerupai orgasme yang biasa diraihnya, ini menyerupai rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya.

Cairan Dina terasa nikmat pada pengecap Darma, ia menjilat dan menghisap vaginanya menyerupai seorang lelaki yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya membasahi bab depan tuxedonya.

Dina kembali menggelinjang, kemudian dengan pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi Papah Doni. Lalu ia membuka resleting di bab belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yang tergeletak di atas lantai, hanya mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yang gres saja dipasangkan Darma pada pahanya. Dina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dengan cairannya.

“Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up, kalau Papah memerlukan sesuatu…” ia berkata dengan mengedipkan matanya. Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminim dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian ia menyusulnya.

Saat ia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin di atas washtafel, dan sudah mengenakan sebuah celana dalam berwana putih. Darma tahu kalau ini ialah salah satu godaannya yang manis, dan ia telah siap untuk bermain bersamanya.

Dina melihatnya masuk, dan dengan sebuah gerakan yang bagus membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke bab depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Dina tersenyum. “Tapi Papah, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang Papah calon pengantin pria?”

Darma memandangi bagaimana bibir Dina yang membuka dikala bicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra. “Tak se layak apa yang akan kulakukan padamu.”

Dina menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan penisnya yang mengeras.

“Aku nggak sabar,” bisiknya.

Sejenak kemudian Dina mencicipi tangan calon Papah mertuanya berada di belakangnya dikala ia melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh turun. Dengan gampang tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Dina menarik nafas dalam-dalam dikala ia mencicipi daging kepala penisnya menekan bibir vaginanya yang masih basah.. Dia mengerang dan memegangi tepian washtafel dikala dengan perlahan Darma mulai mendorongkan batang penis itu memasukinya. Dina mencicipi bibir vaginanya menjadi terdorong ke dalam, mencicipi dinding bab dalamnya melebar untuk menerimanya.

“Apa ini terasa lebih baik dari penis putaku?” Darma tersenyum puas. Dia tahu se berapa ukuran penis putranya, dan ia yakin kalau putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada batang penisnya, dengan cepat ia sadar kalau ia layak untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dibandingkan putranya. Dan ia mendapatkan firasat kalau ia bisa melakukannya kapanpun mereka mempunyai kesempatan.

“Oh brengsek!!! Ya Papah… ayo… beri saya yang terbaik untuk merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu.” ia lebih membungkuk ke bawah, dan mencicipi tangan Darma pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Darma memastikan vagina sang mempelai perempuan benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Dina mengerang dan menjerit dan bergoyang pada batang penis itu, mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin dikala menyalurkan nafsu terlarang mereka.

Dina merasa teramat sangat nakal, disetubuhi dengan layak dan keras oleh Papah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Darma mencicipi vaginanya mengencang pada batang penisnya, dan kali ini, ia merasa seluruh badan Dina mengejang sepanjang orgasmenya. Wanita ini ialah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya menyerupai sebuah busur panah yang direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan sanggup mencicipi pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya dikala ia tetap menyetubuhinya.

Dia telah membuatnya mendapatkan orgasme menyerupai ini selama tiga kali, sampai ia nyaris rubuh di atas washtafel, mendapatkan hentakannya, vaginanya hampir terasa kelelahan untuk orgasme lagi. Tapi Darma tahu bagaimana membawanya ke sana.

“Kamu mengharapkan spermaku, iya kan, Dina? Kamu ingin biar saya mengisimu dan menciptakan vaginamu terlumuri spermaku yang sudah mengering dikala berjalan di altar pernikahanmu, benar kan perempuan jalangku?”

“Oh ya… yaaa!” sang pengantin perempuan mulai kesulitan bernafas, dan Darma sanggup merasakannya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yang ia mampu, dengan setiap dorongan yang keras, dan segera saja ia mencicipi sensasi terbakar itu A?a,?aEs dan ia tahu ia tak bisa menahannya lebih usang lagi. Tepat dikala penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yang banyak ke dalam kandungannya, ia mencicipi badan Dina menegang dan orgasme untuk sekali lagi.

Dicabutnya batang penisnya keluar, menyaksikan lelehan sperma yang mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahannya. Darma tersenyum. “Aku akan menunggu di mobil, Dina…”

Perlahan Dina bangkit, masih menggelenyar alasannya sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut dan bocor. “Mmm, oke Papah.”

Dia tetapkan untuk melaksanakan “tradisinya” dan dan mengorek sperma Papah Doni dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian proteksi Doni.

Saat Darma melihat mempelai perempuan putranya masuk ke dalam mobil, sudah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yang terpantul dari beling kendaraan beroda empat ialah dikala Dina memandang tepat di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian proteksi putranya itu…

Itulah kumpulan dongeng dari Ngentot dengan Menantuku sendiri semoga dengan adanya artikel ini bisa buat kalian semakin sange. salam sange woyooo...


0 Komentar untuk "Cerita Hitam Perselingkuhan Mertua Dengan Menantu Gres Yang Doyan Ngesex"

Back To Top