Pada ketika pertama kali tiba melihat puskesmas daerah aqu akan bertugas selama 5 tahun yg terletak di suatu kecamatan yg tidak mengecewakan jauh dari kota kabupaten, aqu tiba sendirian. Di sana aqu ditemui oleh seorang suster perempuan yg sudah bekerja di sana selama tiga tahun semenjak puskesmas itu selesai dibangun.
“Ningsih”, begitu ia memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya. Dalem hatiku, “Aduh, manis betul suster ini”.
Sambil bertanya wacana banyak sekali hal, yg menygkut kunjungan pasien, wacana pelaksanaan jadwal kesehatan yg selama ini dikerjakan olehnya (selama ini puskesmas dipimpin olehnya yg merupakan satu-satunya suster dgn dibantu oleh 2 orang petugas lain), wacana keadaan masyarakat sekitar puskesmas, dll, aqu tak puas-puasnya memandangi parasnya yg manis itu. Sebaliknya, si manis ini juga sering dgn berani menatapku balik sambil senyum agak menantang. Pikirku, “Gawat juga anak ini”, kelihatannya ia sangat tertarik secara seksual padaqu.
Dia kisah jikalau sudah menikah selama 2 tahun dan belom berhasil hamil juga. Aqu bilang dgn sedikit menggoda: “Wah, jangan-jangan suamimu kurang jago caranya. Kapan-kapan aku ajari ya”.
“Ya dok, tapi jangan suami aku saja yg diajari, aku juga dong”, ujarnya.
Beberapa ahad kemudian, aqu benar-benar sudah bertugas di puskesmas ini. Aqu tinggal di rumah kiprah di samping kantor yg masih satu kompleks dgn puskesmas, demikian pula Ningsih tinggal di rumah kiprah pada kompleks yg sama namun di sisi lainnya. Istriku dari pagi hingga menjelang sore pergi ke kota S untuk bekerja. Makara sesiangan rumahku nyaris kosong.
Pada hari pertama, aqu mengajak Ningsih berboncengan menggunakan motor ke desa-desa daerah wilayah kerjaqu untuk orientasi dan berkenalan dgn beberapa kepala desa yg kebetulan dilewati.
Perjalanan melalui jalan yg sebagian besar masih berupa tanah yg dikeraskan, dan di beberapa daerah berupa kerikil “makadam” yg bergelombang. Tangan Ningsih yg kubonceng di belakangku berkali-kali memegang paha atau pinggangku alasannya yaitu taqut terjatuh. Aqu bahagia bukan main sambil berdebar. Berkali-kali pula payudaranya yg tidak terlalu besar namun kenyal itu menyenggol di punggungku. Rupanya ia juga tak sungkan-sungkan untuk menempelkannya. Melihat sikapnya yg ibarat itu, aqu meramal bahwa Ningsih suatu ketika niscaya bisa kuajak bergelut bugil di daerah tidur.
Badan Ningsih cukupan, tingginya sekitar 160 cm, badannya langsing, kakinya memiliki rambut- rambut yg cukup merangsang laki laki, walau pun kulitnya sedikit gelap. Parasnya manis ibarat Tony Braxton, si penyanyi negro itu. Payudara tidak besar, yah kira-kira setangkupan telapak tanganku. Itu pun kukira-kira saja, alasannya yaitu di ketika kiprah badannya di balut seragam kiprah Pemda. Rambutnya sebahu. Yg jelas, parasnya cantik, seksi dan senyumnya menggoda.
Dalem perjalanan berboncengan Ningsih menceritakan perjalanan hidupnya semenjak lulus sekolah dan eksklusif ditempatkan di puskesmas ini. Di sini mula-mula ia tinggal bersama adik perempuannya yg sekolahnya dibiayainya. Dia sempat berpacaran dgn seorang cowok yg tinggal di depan rumah tugasnya, namun balasannya justru tetangga lainnya yg memintanya untuk dijadikan menantu. Akhirnya undangan belakangan itulah yg dipenuhinya sehingga Ningsih dinikahi oleh seorang cowok putra seorang tokoh masyarakat desa (tetangga bersahabat tadi) dan cukup berada, tanpa melalui proses pacaran.
Ningsih rupanya selama itu menjadi “bunga” di desa daerah puskesmas berada. Dia menjadi inceran banyak cowok desa situ, juga orangtua-orangtua yg menginginkannya menjadi menantunya.
Tanpa sengaja, ketika Ningsih sedang asyik bercerita, motor aku melawati lubang yg cukup menciptakan motor bergoyg keras, dan bibir Ningsih sempat melekat di leherku bab belakang (aqu sedikit geli, namun tentu bahagia dong) dan krah bajuku terkena warna merah lipstiknya. Dia segera membersihkan krah tersebut, kawatir dicurigai istriku macam-macam. Tapi aqu damai saja, bahkan aqu bilang: “Nggak apa-apa koq, ditempeli sekali lagi juga nggak apa-apa, apalagi jikalau nggak cuma di krah baju”. “Ih, pak Wawan macam-macam …, nanti dimarahi ibu lho.”, katanya agak genit.
Beberapa ahad kemudian nggak ada kejadian istimewa, hingga suatu hari Ningsih sakit diare dan nggak bisa masuk kantor. Pembantunya menyusul ke puskesmas, dititipi pesan biar jikalau aku sudah tidak terlalu sibuk bisa menengok dirinya, mungkin bisa memberi advis mengenai pengobatannya.
Sesudah pasien sepi dan tak ada pekerjaan kantor yg berarti, aqu menjenguknya ke rumahnya, dan diminta masuk kamar tidurnya. Saat itu suaminya nggak ada di rumah, alasannya yaitu sehari-hari suaminya bekerja di suatu pabrik di kecamatan sebelah. Aqu melihat ia berbaring di ranjang, walau pun sedang sakit, namun kulihat paras dan badannya justru makin merangsang dibalut baju tidur yg cukup seksi.
Kawatir aqu nggak bisa menahan diri di kamarnya, aqu segera minta padanya, jikalau masih bisa jalan (aqu lihat sakitnya biasa saja), untuk pergi ke rumahku setelah jam kantor minta diantar pembantu. Toh, jaraknya cukup dekat. Sementara itu ia kuberi obat seperlunya.
Sepulang kantor, Ningsih tiba ke rumah diantar pembantu, kemudian pembantunya disuruhnya pulang duluan, sehingga aqu dan ia tinggal sendirian di rumahku. Pembantuku (suami-istri) jikalau siang seusai bekerja pulang ke rumahnya dan petangnya kembali lagi, alasannya yaitu mereka yaitu penduduk desa setempat.
Ningsih kusuruh masuk ke kamar periksa, kemudian kuminta berbaring di daerah tidur periksa. Aqu memasang stetoskop, dan kuminta ia untuk membuka sebagian kancing atasnya (Ningsih menggunakan pakaian rok dan kemeja blues yg dikeluarkan). Aqu mula-mula serius menyidik dadanya dgn stetoskop, namun begitu melihat sembulan buahdadanya yg nggak besar di balik BREAST HOULDERnya, aqu tiba-tiba berdebar dan bergetar. Aqu nggak pernah bergetar bila menyidik pasien perempuan lain, namun menghadapi Ningsih koq lain.
Dgn impulsif tanpa meminta ijin dari empunya, buahdadanya kuraba halus dari luar dan kuelus-elus. Ningsih tak menciptakan gerakan penolakan, matanya justru terpejam sekan menikmati. Seluruh kancing bluesnya eksklusif kucopoti, sehingga BREAST HOULDER Ningsih itu terlihat bebas menantang.
Bibirnya kukulum dgn cepat, sambil tanganku masih mengelus-elus buahdadanya dari luar BREAST HOULDER nya yg belom kulepas. Seperti yg sudah kuduga, kuluman bibirku disambutnya dgn ciumannya yg lembut tapi hebat. Lidahku kujulurkan dalem-dalem ke langit-langit mulutnya, sebaliknya lidahnya segera
membalas dgn memilin lidahku. Aqu melihat Ningsih terengah-engah menahan emosinya, sambil mengerang: “Ssssh, pak Wawan, pak, ah … argghhh … ssshhh”.
Tanpa menunggu lama, sambil Ningsih masih tetap terbaring dan mulutnya masih kubungkam dgn bibirku, cup BREAST HOULDER nya kuangkat ke atas tanpa kucopot kancingnya terlebih dulu. Susunya eksklusif tersembul keluar dgn indahnya. Benar dugaanku susunya tak besar, namun bagus dan kencang dgn puting susu kemerahan yg tak terlalu menonjol. Itulah susu Ningsih yg sudah kubaygkan beberapa usang dan ingin kukulum. Itulah sepasang payudara Ningsih yg masih kenyal belom sempat mengeluarkan ASI alasannya yaitu belom sempat hamil.
Tangan kananku segera meraba-raba pentilnya bergantian kanan dan kiri dgn gerakan memutar yg halus. Ningsih makin menggigil dan tambah mengerang: “Paaak, Ningsih aib paak … ssshhh aargghhh … ssshh …”. Aqu terus menjilati bibir dan parasnya sambil berdiri, dan tanganku memijat-mijat susunya yg ranum. Tangan Ningsih merangkul leherku, matanya berkejap-kejap, sambil mulutnya terus mendesah di tengah-tengah kuluman lidahku.
Sesudah puas menjilati paras dan bibirnya, mulutku beralih ke leher dan belakang telinganya. Dia makin menggelinjang sambil setengah menegakkan kepalanya. Aqu masih terus berdiri, stetoskopku sudah kulempar jauh-jauh. Segera kemudian, mulutku sudah berada di puting susu kirinya. Aqu jilat sepuasnya. Dada Ningsih menggeliat dan sekali-kali membusung, sehingga susunya makin terlihat indah dan menggairahkan. Desisan Ningsih makin menghebat, “Aaarggghhh, paaaak, aqu nggak tahan paaak …”. Tanganku pelan-pelan menelusuri pahanya yg mulus walau pun berkulit agak sedikit gelap. Tapi warna kulit ibarat ini justru sangat merangsang diriku. kemaluan di balik celanaqu sudah menegang semenjak tadi ketika aqu mulai pertama kali melihat BREAST HOULDER nya. Aqu mulai menelusuri pahanya pelan-pelan ke atas menuju selangkangannya di balik rok yg masih dipakainya, sambil aqu masih terus menggelomohi kedua puting susunya. Kulirik paras manis susterku ini. Ah, betapa makin merangsangnya tampakan parasnya, yg sambil sedikit merem-melek matanya menahan nafsu birahi, mulutnya mendesis mengerang terus menerus walau pun tidak dgn bunyi yg keras, “Aaarghh, paakk, aqu … aqu nggak tahan lagi paak.”
Namun, begitu tanganku hingga di pinggir celana dalemnya, tiba-tiba ia tersadar dan eksklusif bilang, “Ah, pak, jangan kini pak ..”. Aqu agak kaget, “Mengapa Sih? Aqu sudah nggak tahan Sih, kepingin menelanjangi kamu.” Ningsih menjawab: “Kapan-kapan pak untuk yg itu.”.
Aqu tak berani nekat meneruskan, tapi paras, bibir, dan susunya masih terus kujilati bergantian.
Aqu berciuman ibarat itu sambil pakaianku masih lengkap dan masih tetap berdiri, sedang Ningsih sudah setengah bugil sambil tetap tergolek di ruang periksa, kurang lebih setengah jam. Akhirnya, alasannya yaitu aqu kawatir jikalau istriku tiba dari kantor, maka perbuatan kita yg sudah kerasukan nafsu birahi yg menggelegak itu kuhentikan, dan Ningsih kusuruh berpakaian kembali dan kuminta segera pulang. Aqu sempat berciuman sekali lagi. Mesra, ibarat sepasang kekasih yg gres dilanda asmara.
Beberapa hari kemudian, setelah kantor tutup, Ningsih yg sudah sembuh dari diarenya, kuminta tiba ke rumah. Dia tiba masih menggunakan seragam tugas. Demikian pula aqu.
Kusuruh ia duduk di sampingku di sofa ruang tamu. Ruang tamuku tetap kubiarkan terbuka pintunya, toh aqu tetap bisa mengontrol situasi luar rumah dari beling besar berkorden dari dalem. Orang luar tak bisa melihat ke dalem, alasannya yaitu pencahayaan dari luar jauh lebih terang.
Melihat situasi luar yg cukup aman, dan ketika itu di rumah tugasku hanya ada aqu dan Ningsih, maka kuberanikan mencoba melanjutkan apa yg sudah kumulai beberapa hari sebelomnya.
Ningsih yg berada di samping kananku eksklusif kupeluk mesra, kuelus rambutnya dan kucium bibirnya dgn rasa sayg. Namun tanpa kuduga, dgn ganas (Ningsih sepintas kuperkirakan yaitu perempuan yg hiperseks, dan di kemudian hari ia memang mengaquinya jikalau ia nggak pernah puas ketika bekerjasama seksual dgn suaminya, walau pun berdasarkan ukurannya suaminya memiliki kemampuan seksual yg sangat hebat), ia menyambut ciumanku dgn jilatan-jilatan lidahnya yg selangkanganku yg tertutup celana kiprah dan meraba kemaluanku yg sudah menegang ketika mulai berciuman tadi. Kemaluanku dikocoknya dari luar dgn trampil dan membuatku keenakan (jujur saja, istriku tidak bisa ibarat itu).
Secara cepat dan trengginas, alasannya yaitu nafsu yg sudah berkobar-kobar, aqu pun eksklusif membuka kancing seragam atasnya, dan dgn lahap kukeluarkan seluruh payudaranya yg ranum dari cup BREAST HOULDER tanpa membuka kancing yg terletak di belakangnya. Susunya eksklusif kuremas dgn lembut, pentilnya yg imut kupilin-pilin hingga menegang, dan aqu terus menciumi bibir dan kadang menciumi paras dan belakang telinganya. Ningsih meregang, dan kali ini ia memanggilku tidak lagi pak atau dok, namun sudah bermetamorfosis `papa?, “Ehmmpph, sshh … paaaaaah, aqu sayg kau paaah, Ningsih sayg papaaah … aaarghh
Aqu pun berganti menjawab sekenanya dan seberaninya, “Aqu juga sayg Ningsih, bener aqu sayg kamu, hari ini aqu ingin memasukkan kemaluanku ke badanmu, sayg, boleh?”
Ningsih eksklusif menjawab, “Boleh yaaaang, boleh … arrghhh … sshhshh … cepatan ya yaaaang … aaaargrhhh ….”.
Mendengar jawaban itu, tanpa ragu, aqu segera memasukkan jari kedua tanganku ke selangkangannya yg masih tertutup seragam tugas, dan dgn kasar kucari celana dalemnya, dan begitu ketemu, tanpa ba-bi-bu lagi eksklusif kupelorot dan kusimpan di saqu celanaqu. Demikian pula Ningsih, dgn terengah-engah, eksklusif ia membuka resleting celanaqu dgn sebelomnya melepaskan ikat pinggangku yg kemudian ia lempar jauh-jauh, dan tangannya dgn cepat menyergap kemaluanku yg berukuran panjang 14 cm dgn diameter yg cukup besar. Aqu ikut memelorotkan celanaqu walau pun nggak hingga kulepas sama sekali. Tangannya dgn cekatan mengelus kemaluanku, mengocoknya, sembari badannya menggelinjang alasannya yaitu jariku sudah mengelus kemaluan kemaluannya yg basah. Sebagian jariku pelan-pelan kumasukkan ke dalem lubang kemaluannya, dan kugeser-geser melingkari lubang sempit itu. Jempolku mencari kelentitnya, begitu ketemu kuelus dgn permukaan dalem jempol.
“Ah, paaah, aqu nggak tahan paaah … aggghhh, ….. paaaah …..eeennaaak paaah …”, ia mengerang setengah berteriak, namun mulutnya segera kubungkam dgn mulutku, kukulum biar suaranya tidak terdengar oleh orang-orang yg mungkin ada di luar, kemudian kujilati bibir dan seluruh permukaan parasnya hingga berair terkena ludahku.
Sambil setengah bergumul, mataqu selalu waspada melihat keadaan luar rumah melalui beling berkorden untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yg mau masuk ke rumah. Karena situasi yg tidak terlalu kondusif itu, aqu tidak berani melaqukan cuilan birahi kita ini dgn berbugil total..
Tanpa menunggu usang lagi, alasannya yaitu darah birahi yg sudah hingga ke ubun-ubun, tubuh Ningsih kutarik ke depan badanku, sambil ia tetap duduk menghadap ke depan membelakangiku, dan aqu bersandar setengah duduk di sofa, dgn perlahan tapi pasti, rok bawahannya kusingkap dan kuangkat, bokongnya kupegang, selangkangannya yg sudah tak bercelana dalem kurenggangkan lebar-lebar, pahaqu kurapatkan dgn kemaluan yg mengacung ke atas, kemudian tangan kiriku memegang kemaluan dan kubimbing masukkan ke kemaluan (memek)-nya. Ningsih ikut membantu memegang kemaluanku dgn tangan kanannya, dan perlahan-lahan bokongnya diturunkan ke bawah. Kemaluannya terasa sempit juga (mungkin alasannya yaitu belom pernah melahirkan bayi), namun berkat santunan lendir kemaluannya yg sudah banyak, tanpa kesulitan yg cukup berarti kemaluanku balasannya berhasil masuk juga ke sebagian kemaluan depannya. Ningsih sambil menghadap ke depan terus mengerang, bokongnya mulai bergoyg-goyg, dinaik turunkan, biar kemaluanku bisa lebih masuk ke dalem.
“Aduuuh paaaaah, enaaak paaaah …. Ssshhh … arggh , aaduuuh paaah …”, erangnya. Aqu juga mulai mendesis mencicipi enaknya kemaluan susterku yg sangat manis dan hot ini, sambil benakku berseliweran membaygkan keberanianku menyebadani istri orang. Ah, persetan, salahnya punya istri manis disia-siakan, sehingga masih mencari memek atasannya. Betul-betul kemaluan yg nikmat, nggak salah aqu ditempatkan di puskesmas ini, aqu bisa menikmati sepuasnya kemaluan Ningsih yg sedap. Kepunyaan istriku sendiri tidak senikmat ini.
“Narsiiih, kau memang enaak, Ningsih …” begitu desisku.
Sambil aqu juga ikut menggerakkan bokongku naik turun seirama dgn naik turunnya bokong Ningsih, aqu mengocok kelentit Ningsih yg ada di depan dgn tangan kananku. Tangan kiriku terus meraba habis susunya yg terasa kenyal di depan. Ningsih makin menggelinjang ibarat cacing kepanasan, alasannya yaitu kocokan jariku pada kelentitnya yg makin menonjol. Bokongnya makin ia goygkan selain naik turun juga ke kanan kiri. Rasanya bukan main enak, tak terkirakan. Beginilah rupanya rasa kemaluan Ningsihku, Ningsihku yg bisa menggantikan kiprah istriku di siang hari, Ningsihku yg memiliki gerakan tubuh yg jago dan nikmat.
“Siiiih, kau sayg papa beneran nggak, aqu eeennnaaaak Siiih ….!”
“Aaaaduuuh paaaah, Ningsih sayg paapaaaah, eennaaak juga aqu paaaah, koq bisa enaaak gini ya paaaah? Aaaargghhhh ….. ssshh … arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh …. Paaaaah …”
Aqu makin cepatkan kocokanku naik turun, demikian pula Ningsih, ia makin menggeliatkan badannya ke sana kemari. Sayg, aqu nggak bisa melihat tubuh indahnya sambil berbugil, alasannya yaitu situasinya yg tak memungkinkan.
Tiba-tiba Ningsih, setengah berteriak bergetar-getar badannya, “Aaarghhh … paaah, aqu nggak tahaaan paaaah, aqu mau orgasme paaaaah, paaaaah …”. Aqu sendiri hampir nggak tahan juga mencicipi denyutan kemaluannya yg asyik. Sekali lagi, betul-betul kemaluan yg yummy dan nikmat
“Nggak apa-apa Siiih, jikalau mau orgasme, nggak usah ditahan Siiih, papa juga mau keluar, aarghhh …”.
Gerakan kemaluanku makin kupercepat walau pun tidak terlalu bebas, alasannya yaitu posisiku yg di bawah, sambil tanganku mengocok susu dan bibir Ningsih kucari dan kumasukkan jempolku ke mulutnya dan segera diempotnya ibarat bayi sambil terus mendesah. Tak usang kemudian, Ningsih mengejang, “Arrrggghhhhh paaaaaaaaah …. Arrrghhhhhh ……”, badannya bergetar, rupanya Ningsih sudah orgasme hebat. Kemaluanku terasa dijepit berdenyut-denyut. Karena proses orgasme badannya menggeliat seksi ke belakang sehingga tampak makin menggairahkan.
Pemandangan itu, walau cukup kulihat dari belakang, menciptakan aqu juga sudah merasa nggak tahan lagi, geli jago mulai terasa di ujung kemaluan yg masih berada di kemaluan Ningsih. Goyganku kupercepat lagi, Ningsih kupeluk erat-erat, dan … “Aaaarhggggghhh … aqu juga keluar Siiiih … eenaaaak Siiih …..”.
Bokong Ningsih kutarik keras-keras ke bawah biar seluruh kemaluanku terbenam di kemaluannya, dan kusemprotkan keras-keras air maniku ke dalem kemaluannya, sambil berharap biar ada spermatozoa yg bisa menyerbu ovumnya sehingga menghasilkan pembuahan, alasannya yaitu mendadak hari ini aqu merasa menyayangi Ningsih, tidak sekedar mencari kepuasan seksual saja.
“Ooooh paaaah, aqu cinta kau paaaah …., Ningsih sayg kau paaah. Aqu kepingin anak dari kau paaah …” kata Ningsih sambil terus memutar-mutarkan dan menekan bokongnya mengakibatkan kemaluanku ibarat diperas-peras isinya, dan beberapa kali menyemprotkan mani hingga ludas.
“Aqu juga sayg kamu, Ningsih … kapan-kapan aqu ingin mengajakmu main seks sambil betulan telanjang bulat, mau ya Siih …?”
Ningsih eksklusif menjawab dgn manja: “Tentu Ningsih mau sekali paah, ahad depan ya paah, kita cari daerah yummy untuk bikin anak yg nikmat ya paah?”

0 Komentar untuk "Cerita Hitam Suster Sange Ingin Diajari Seks"